JAKARTA — Sebanyak 150 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global (FISSG) Universitas Budi Luhur mendapatkan kesempatan langka untuk menembus ruang-ruang sakral jalannya pemerintahan Indonesia di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (19/5). Langkah strategis ini diinisiasi langsung oleh Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti guna membekali generasi muda dengan pemahaman empiris mengenai tata kelola negara serta memicu semangat kepemimpinan yang cerdas dan berbudi luhur menjelang Indonesia Emas 2045.
Suasana antusiasme yang tinggi menyelimuti rombongan mahasiswa saat melangkahkan kaki memasuki kawasan pusat kekuasaan eksekutif tersebut. Program bertajuk “Istana untuk Anak Sekolah” ini bertransformasi menjadi ruang kelas terbuka yang masif, di mana para peserta tidak hanya sekadar mendengarkan pemaparan teoretis, melainkan menyaksikan langsung heritase sejarah dan dinamika birokrasi yang selama ini hanya dapat mereka akses melalui layar kaca, buku teks kuliah, ataupun beranda media sosial.
Dipandu oleh tim protokoler Istana, para mahasiswa diajak berkeliling menyusuri sudut-sudut arsitektur yang sarat akan nilai historis, mulai dari Istana Merdeka, Kantor Presiden, hingga Istana Negara. Di sinilah tempat di mana keputusan-keputusan geopolitik dan domestik krusial yang menentukan arah bangsa diambil oleh para kepala negara dari masa ke masa. Bagi para mahasiswa lintas program studi, termasuk Kriminologi, melihat langsung episentrum kebijakan publik ini memberikan perspektif baru yang mendalam mengenai realitas ketatanegaraan.
“Saya merasa senang sekali bisa berada di Istana Merdeka ini, karena selama ini hanya melihat di TV dan sekarang bisa menyaksikan secara langsung kantor Presiden. Terima kasih Pak Presiden,” ujar Ebil, mahasiswa Program Studi Kriminologi Universitas Budi Luhur, yang tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya saat berdiri di koridor utama Istana Merdeka.
Kunjungan edukatif berskala besar ini bukan sekadar agenda wisata kasual di kala senggang akademis. Di balik pergerakan ratusan mahasiswa ini, terdapat visi besar yang diarsiteki oleh Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC). Yayasan yang menaungi Universitas Budi Luhur ini secara konsisten terus mengintegrasikan kurikulum berbasis nilai-nilai keluhuran budi dengan pengayaan wawasan global yang aplikatif di lapangan.
Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) YPBLC, Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc. secara terpisah memberikan penegasan mendalam terkait esensi dari keterlibatan universitas dalam agenda kenegaraan ini. Ia menyampaikan bahwa untuk melahirkan pemimpin masa depan, dunia akademik tidak boleh membatasi dinding pengetahuannya hanya di dalam ruang kelas tertutup.
“Kegiatan ini merupakan komitmen konkret dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti untuk memberikan platform pembelajaran terbaik dan riil bagi mahasiswa kami. Berada langsung di pusat sirkulasi kebijakan negara memberikan kepekaan taktis yang berbeda. Kami ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi mampu menyerap atmosfer kepemimpinan nasional di Istana ini untuk diimplementasikan dalam pengabdian mereka bagi masyarakat. Inilah esensi pembentukan karakter pemuda yang cerdas dan berbudi luhur menuju Indonesia Emas 2045,” tutur Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc. dalam wawancara resmi terkait agenda tersebut.
Pihak yayasan memandang bahwa tantangan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan modalitas kepemimpinan yang kokoh dari generasi muda. Oleh karena itu, setelah sesi jelajah fisik selesai, seluruh peserta difasilitasi dalam forum pemaparan materi khusus. Sesi ini membedah secara mendalam peran strategis dan tanggung jawab moral pemuda sebagai agen perubahan (agent of change) yang wajib mengawinkan kecerdasan intelektual dengan integritas moral.
Melalui keterlibatan aktif dalam program ini, Universitas Budi Luhur membuktikan komitmennya dalam menjembatani jarak antara masyarakat akademik dengan institusi tertinggi pemerintahan. Pengalaman berharga di jantung pemerintahan ini diharapkan mampu memantik motivasi personal bagi 150 mahasiswa tersebut agar sekembalinya ke kampus, mereka dapat menjadi motor penggerak perubahan yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga memegang teguh nilai-nilai kebaikan dan budi luhur demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

