JONGGOL — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Singasari 01, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat memicu protes keras dari pihak sekolah dan orang tua murid. Selama empat hari berturut-turut, paket makanan yang didistribusikan kepada para siswa ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi dan mengeluarkan bau basi pada bagian lauknya.Temuan berulang ini memicu kekhawatiran besar di lingkungan Kp. Malati, Desa Singasari, terkait risiko keracunan massal yang mengancam kesehatan ratusan siswa sekolah dasar tersebut.Kronologi Kejadian di LapanganMenurut informasi dari pihak internal sekolah, kondisi makanan tidak segar ini bukan sekadar insiden sekali lewat. Guru dan staf sekolah mendapati indikasi menu makanan yang mulai rusak sejak empat hari lalu. Bukannya membaik, kualitas hidangan yang dikirimkan oleh dapur penyedia lokal justru terus memburuk pada hari-hari berikutnya.”Ini sudah hari keempat kami menerima lauk yang baunya asam dan basi. Kami terpaksa menahan makanan ini dan melarang anak-anak menyentuhnya karena risikonya sangat besar bagi pencernaan mereka,” ungkap salah satu pihak sekolah yang meminta identitasnya dirahasiakan.Sebagai langkah antisipasi darurat, pihak guru segera mengamankan seluruh paket makanan hari itu. Mereka juga mendokumentasikan kondisi fisik lauk yang mulai berlendir dan berbau menyengat melalui foto serta rekaman video sebagai bukti otentik kelalaian fatal dari pihak penyedia makanan.Desakan Evaluasi Vendor dan Dapur PenyediaKelalaian yang terjadi selama empat hari berturut-turut ini memperlihatkan lemahnya pengawasan mutu (quality control) dari pihak vendor atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lokal yang bertanggung jawab di wilayah Jonggol. Komite sekolah dan para orang tua murid mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor serta instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan sidak.Masyarakat menuntut tindakan tegas berupa evaluasi total atau pemutusan kontrak terhadap dapur penyedia tersebut, mengingat mereka dinilai mengabaikan standar ketat keamanan pangan nasional. Sementara itu, pihak sekolah kini sedang menyusun berkas laporan resmi untuk diteruskan ke dinas kesehatan setempat serta saluran pengaduan pelayanan publik nasional SP4N-LAPOR!.
(Dendy Rinaldi)

