Tasikmalaya, 14 Oktober 2026 – Bidikrealita.com – Jangan kira pejuang itu sudah habis.
Memang tidak lagi bawa bambu runcing. Tidak lagi perang di medan. Tapi pejuang hari ini masih ada, dan dia ada di dekat kita.
Pejuang penegak kedaulatan itu cirinya simpel: berani bilang benar itu benar, salah itu salah.
Lihat petani di desa. Pupuk mahal, harga gabah dimainkan, tapi dia tetap tanam. Dia sedang jaga kedaulatan pangan kita. Coba kalau dia berhenti, kita makan apa?
Lihat guru honorer. Gaji kecil, tapi tetap masuk kelas. Dia jaga kedaulatan pendidikan. Dia yang bikin anak-anak kita tidak gampang dibodohi.
Lihat wartawan kampung, aktivis, pemuda desa. Ketika tanah rakyat mau diserobot, ketika bantuan salah sasaran, dia yang bersuara. Dia jaga kedaulatan rakyat.
Anehnya, orang seperti ini malah sering dianggap berisik. Dianggap pengganggu. Padahal tanpa mereka, negara bisa kebablasan.
Kedaulatan itu bukan cuma garis batas di peta. Lebih dari itu.
Kedaulatan itu apakah petani masih bisa hidup dari sawahnya. Apakah nelayan masih bisa melaut dengan tenang. Apakah anak muda bisa kerja di negerinya sendiri.
Kalau itu sudah tidak ada, apa gunanya kita teriak merdeka?
Jadi pejuang hari ini tidak butuh senjata. Cukup tiga hal: jujur, berani, dan peduli.
Jujur di zaman semua serba dibeli itu sudah jadi perlawanan. Berani menolak yang salah itu keberanian sejati. Peduli sama sekitar itu yang bikin negara ini tetap kuat.
Kita tidak butuh pahlawan yang fotonya dipajang di dinding.
Kita butuh pejuang yang kerja nyata. Yang tidak cari tepuk tangan, tapi ingin Indonesia tetap berdiri di kaki sendiri.
Penulis: Mamat Rahmat, C.JI., C.LWI

