Tasikmalaya, bidikrealita.com – Drakula itu tidak mati. Dia cuma ganti baju.
Dulu dia tinggal di kastil. Sekarang dia tinggal di balik meja, di balik dasi, di balik janji manis. Bedanya, kalau drakula dulu hisap darah, drakula yang sekarang hisap keringat rakyat.
Kita bisa lihat di mana-mana.
Dia ada di rentenir berkedok koperasi yang kasih pinjaman 2 juta, balikinnya jadi 5 juta. Rakyat kecil dicekik. Sawah habis, motor hilang, rumah digadaikan. Alasannya bunga berjalan. Padahal itu pemerasan.
Dia ada di oknum yang bermain proyek. Proyek turun buat rakyat, tapi dipotong sana-sini. Jalan baru sebulan sudah retak. Bantuan untuk orang miskin nyasar ke kerabat sendiri. Keringat rakyat yang harusnya jadi pembangunan, malah jadi bancakan.
Dia juga ada di mereka yang jualan jabatan dan pungli. Mau urus surat dipersulit. Kalau mau cepat harus bayar. Rakyat kecil yang cuma ingin hidup jujur, malah diperas habis-habisan.
Drakula jenis ini paling pintar. Dia tidak pakai taring. Dia pakai stempel. Tidak pakai jubah hitam. Dia pakai seragam rapi. Kata-katanya manis. “Ini untuk rakyat,” katanya. Padahal perutnya sendiri yang buncit.
Yang jadi korban siapa? Ya rakyat kecil. Petani yang gagal panen masih dikejar utang. Pedagang kecil yang lapaknya digusur tanpa solusi. Buruh yang gajinya tidak naik-naik tapi harga beras terus naik.
Lama-lama rakyat kurus. Bukan karena malas kerja. Tapi karena keringatnya terus dihisap. Dari pagi sampai malam kerja, hasilnya tidak pernah cukup. Karena di ujung, selalu ada drakula yang menunggu.
Sekarang pertanyaannya, sampai kapan kita pelihara drakula ini?
Sudah saatnya dilawan. Caranya bukan pakai bawang putih. Tapi pakai keberanian. Berani lapor kalau dipalak. Berani tolak kalau disuruh nyogok. Berani buka suara kalau lihat pungli.
Karena kalau kita diam, drakula akan makin gemuk. Dan rakyat akan makin kering.
Jangan biarkan negeri ini jadi kastil besar tempat para drakula pesta pora, sementara rakyatnya jadi tumbal.
Reporter: Mamat Rahmat, C.JI., C.LWI

