Tapanuli Selatan,SUMUT, BidikRealita.Com – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Tapanuli Selatan, sebagai institusi pendidikan tinggi unggulan di bawah naungan Kementerian Agama, secara resmi merilis kebijakan operasional akademik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah ini bukan sekadar rutinitas kalender pendidikan, melainkan sebuah manifestasi dari komitmen madrasah dalam menyelaraskan ritme pembelajaran dengan penguatan nilai spiritualitas dan kebersamaan di lingkungan keluarga bagi seluruh peserta didik.
Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I, M.Si., menegaskan bahwa formulasi kebijakan libur ini berpijak pada landasan konstitusional yang kuat. Keputusan tersebut merupakan sinkronisasi dari surat edaran bersama lintas kementerian, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Dalam Negeri. Pendekatan integratif ini diambil untuk memastikan bahwa masa rehat akademik tetap berada dalam koridor regulasi nasional yang berlaku.
Dalam perspektif filosofis, Abdul Hakim menekankan bahwa momentum Idul Fitri harus dipandang sebagai laboratorium sosial bagi siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai religiusitas yang telah dikonstruksi di madrasah. “Idul Fitri adalah katalisator untuk mempererat kohesi sosial melalui silaturahmi. Kami memproyeksikan masa libur ini sebagai ruang bagi siswa untuk melakukan refleksi diri dan menanamkan kembali esensi kebersamaan dalam unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga,” urainya pada Selasa (10/03/2026).
Secara teknis, kalender akademik menetapkan periode diskoneksi aktivitas di kampus madrasah terhitung mulai 16 Maret hingga 27 Maret 2026. Seluruh spektrum kegiatan, baik kurikuler maupun ekstrakurikuler, ditangguhkan sementara guna memberikan keleluasaan penuh bagi siswa. Logistik kepulangan siswa diatur secara sistematis mulai Jumat, 13 Maret 2026, guna menghindari penumpukan massa dan menjamin kenyamanan mobilisasi menuju daerah asal masing-masing.
Terdapat atensi khusus bagi siswa kelas XII yang berada di ambang penyelesaian studi. Pihak madrasah menginstruksikan pengosongan asrama secara total dari barang pribadi sebagai bagian dari manajemen fasilitas dan sterilisasi lingkungan pendidikan. Langkah ini dipandang perlu untuk menjaga profesionalisme tata kelola sarana prasarana madrasah menjelang suksesi angkatan dan pemeliharaan rutin gedung asrama.
Kedisiplinan waktu tetap menjadi pilar utama, di mana seluruh siswa diwajibkan telah kembali ke lingkungan madrasah pada Minggu, 29 Maret 2026, sebelum pukul 17.00 WIB. Ketegasan jadwal ini bertujuan untuk memitigasi degradasi fokus belajar pasca-libur panjang, sehingga proses transisi kembali ke rutinitas akademik dapat berjalan dengan akselerasi yang tepat dan tanpa hambatan teknis.
Selain pengaturan jadwal, MAN IC Tapanuli Selatan melakukan terobosan visioner terkait ekosistem digital di lingkungan sekolah. Pasca-libur Idul Fitri, madrasah memberlakukan larangan penggunaan telepon genggam (smartphone) bagi seluruh siswa. Kebijakan ini merupakan respon proaktif terhadap regulasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengenai pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur guna melindungi kesehatan mental dan privasi digital siswa.
Sebagai substitusi yang konstruktif, madrasah hanya mengizinkan penggunaan perangkat laptop yang dipandang lebih relevan secara fungsional untuk menunjang riset dan pembelajaran digital. Abdul Hakim menjelaskan bahwa langkah ini adalah upaya dekonstruksi ketergantungan pada gawai non-produktif. “Kami berupaya menciptakan ekosistem pendidikan yang steril dari distraksi digital yang destruktif, serta mendorong pemanfaatan teknologi secara beradab dan berorientasi pada pencapaian akademik,” tegasnya.
Selama masa libur, pimpinan madrasah juga mengimbau siswa untuk tetap menjaga integritas diri sebagai duta MAN IC di masyarakat. Keseimbangan antara penguatan spiritual di sisa Ramadan, pengabdian kepada orang tua, serta pemeliharaan kebugaran fisik menjadi pesan sentral. Keamanan selama perjalanan mudik juga menjadi aspek yang ditekankan, mengingat keselamatan jiwa adalah prioritas fundamental dalam setiap pergerakan massa di hari besar keagamaan.
Sebagai penutup, sinergi antara pihak madrasah dan orang tua/wali murid diharapkan menjadi fondasi keberhasilan kebijakan ini. MAN IC Tapanuli Selatan terus berupaya menjaga marwahnya sebagai institusi yang melahirkan cendekiawan muslim yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepedulian sosial yang tinggi. Kerja sama kolektif ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan pendidikan yang berkualitas dan berintegritas di masa depan.
(Ali Hrp)

