BANDAR LAMPUNG – Gelaran HeySLank yang diinisiasi HS di Lapangan PKOR, Bandar Lampung, menjadi lebih dari sekadar perayaan musik.
Kegiatan yang dihadiri ribuan pengunjung, mayoritas anak muda, ini berkembang menjadi ruang ekspresi sekaligus penyaluran aspirasi generasi muda Lampung dalam mendukung keberlanjutan industri dan mendorong Lampung sebagai sentralisasi industri rokok nasional, sebagaimana yang telah berkembang di Pulau Jawa.
Antusiasme anak muda terlihat tidak hanya dari tingginya partisipasi, tetapi juga dari narasi yang mengemuka selama kegiatan berlangsung. Generasi muda Lampung menilai HS sebagai merek yang konsisten membuka ruang kreatif, menghadirkan hiburan yang relevan, serta berkontribusi terhadap penguatan ekosistem ekonomi lokal melalui pendekatan yang bertanggung jawab.
Dalam perspektif pembangunan daerah, Lampung dinilai memiliki modal strategis untuk menjadi pusat industri rokok, mulai dari letak geografis yang strategis sebagai gerbang Sumatera, ketersediaan sumber daya manusia produktif, hingga peluang pengembangan kawasan industri yang terintegrasi.
Aspirasi ini mencerminkan harapan anak muda agar pertumbuhan industri tidak hanya terpusat di Jawa, melainkan tersebar merata dan memberikan dampak ekonomi yang inklusif.
Dr. (Can) M. Alkautsar, M.M, praktisi sustainability korporasi, menegaskan bahwa dukungan anak muda terhadap HS dan rencana pengembangan industri di Lampung harus dibaca dalam kerangka keberlanjutan jangka panjang.
“Dalam perspektif sustainability, industri yang kuat bukan hanya soal kapasitas produksi, tetapi tentang bagaimana industri tersebut tumbuh selaras dengan masyarakat dan wilayah tempatnya beroperasi.
Dukungan anak muda terhadap HS menunjukkan adanya kepercayaan bahwa korporasi dapat menjadi katalis pembangunan yang inklusif dan bertanggung jawab,” ujar Alkausar, (18/01/2026).
Menurutnya, rencana pembangunan pabrik di Lampung Timur mencerminkan praktik sustainable regional development, di mana keberhasilan bisnis diiringi dengan keberpihakan pada daerah asal, penciptaan nilai bersama (shared value), serta penguatan ekonomi lokal.
“Ketika industri hadir dengan komitmen penyerapan tenaga kerja lokal, penguatan UMKM rantai pasok, dan kepatuhan terhadap standar lingkungan serta sosial, maka industri tersebut tidak hanya bertahan, tetapi mendapatkan legitimasi sosial.” tambahnya.
Ia menilai Lampung memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai basis industri rokok yang berdaya saing nasional, selama pembangunan dilakukan secara terukur, patuh regulasi, dan melibatkan kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, serta komunitas, termasuk generasi muda sebagai pemangku kepentingan masa depan.
Lebih lanjut, Muhammad Suryo selaku CEO HS yang merupakan putra daerah asal Lampung Timur, menjadi simbol kuat dari semangat membangun dari daerah untuk Indonesia. Niatnya untuk membangun pabrik rokok di Lampung Timur dipandang sebagai langkah strategis yang patut didukung oleh masyarakat Lampung serta Pemerintah Daerah, karena membawa dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
” Pembangunan pabrik tersebut ditaksir mampu menyerap hingga sekitar 3.000 tenaga kerja lokal secara bertahap. Hal ini membuka harapan besar agar putra-putri daerah Lampung tidak lagi harus keluar daerah untuk memperoleh pekerjaan, melainkan dapat tumbuh, berkarya, dan berkontribusi di daerah asalnya sendiri ” Ungkapnya
Semangat ini dipandang sebagai bagian integral dari aspek keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan, di mana pertumbuhan bisnis berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
” diharapkan ke depan, sinergi antara dunia usaha, pemerintah, dan komunitas anak muda mampu mendorong Lampung tumbuh sebagai wilayah industri yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan. ini merupakan cerminan bahwa Lampung memiliki potensi yang tidak kalah dengan Jawa, baik dari sisi sumber daya manusia, semangat kewirausahaan, maupun daya dukung wilayah untuk pengembangan industri nasional ” Tutupnya.
(Taufik)

