Bidikrealita.com, Kepulauan Riau — Pagi itu, langit di atas laut tampak cerah. Air laut berkilau memantulkan cahaya matahari, sementara beberapa perahu nelayan kecil tampak menepi dengan hasil tangkapan seadanya. Namun di balik keindahan panorama itu, laut Midai menyimpan luka yang tak terlihat — luka dari ledakan bom ikan yang terus mengoyak dasar laut.
Nelayan asal pulau midai (IR) inisal, sambil menatap ke arah laut. Ia mengenang masa ketika satu kali melaut sudah cukup untuk membawa pulang hasil penuh perahu. Kini, banyak yang pulang dengan tangan kosong.
“Dulu karang di sini warna-warni, ikan banyak. Sekarang hancur semua,” Ujarnya.
Dalam sebulan terakhir, warga Pulau Midai kembali resah. Aktivitas pengeboman ikan marak terjadi di beberapa titik perairan sekitar. Ledakan-ledakan itu terdengar hingga ke pesisir, menggetarkan jendela rumah dan hati warga.
“Kadang malam-malam kami dengar suara ‘dum!’ dari tengah laut. Itu bukan petir, itu bom,” kata salah satu warga yang angan di sebutkan namanya, rumah tangga yang tinggal di tepi pantai,” jelas warga tak ingin disebutkan disebutkan namanya.
Menurut (IR) dari dinas kecamatan tersebut hanya diam Tampa suara terkait praktik bom ikan tidak hanya mematikan ikan target, tetapi juga menghancurkan ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan biota laut.
“Kerusakan karang bisa pulih, tapi butuh waktu puluhan tahun,” jelasnya.
Kerusakan itu berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Nelayan tradisional yang bergantung pada jaring dan pancing kini makin kesulitan mencari ikan. Beberapa bahkan memilih merantau karena hasil laut tak lagi menjanjikan.
Petugas keamanan di kecamatan Midai sudah tau sejak lama praktek bom ikan tersebut di wilayah perairan namun tak pernah bersuara,yang luas dan jauh dari pusat pemerintahan menjadi tantangan tersendiri.
Meski petugas keamanan di Kecamatan Midai disebut sudah lama mengetahui adanya praktik pengeboman ikan di wilayah perairan setempat, hingga kini belum ada tindakan tegas yang diambil. Aktivitas ilegal tersebut terus berlangsung di tengah minimnya pengawasan dan jauhnya jarak wilayah dari pusat pemerintahan.
“Salah satu warga pesisir yang enggan disebutkan namanya mengaku, ledakan di laut kerap terdengar pada malam hari. “Kami sering dengar suara seperti bom, tapi mau lapor juga percuma, karena belum pernah ada tindakan nyata,” ujarnya, Minggu (19/11/2025).
Kondisi geografis pulau kecil dan perairan luas membuat pengawasan menjadi tantangan besar. Aparat keamanan di wilayah tersebut disebut terbatas baik dari segi jumlah personel maupun fasilitas patroli laut.
“Lokasi yang jauh dan luas membuat kami kesulitan memantau seluruh area. Kami sudah berupaya berkoordinasi dengan pihak terkait, tapi perlu dukungan lebih besar,” ujar salah warga yang tak ingin disebutkan namanya.
Sementara itu para pengamat lingkungan masyarakat tak ingin disebutkan namanya,menilai praktik bom ikan tidak hanya merusak ekosistem terumbu karang, tetapi juga mengancam keberlanjutan sumber daya ikan bagi masyarakat pesisir. Mereka mendesak agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera bertindak tegas terhadap pelaku dan memperkuat sistem pengawasan laut di kawasan terpencil seperti Midai.
(Taufik & Team(

