Tapanuli Selatan, BidikRealita.Com –Dua hari menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, aroma kopi madu yang khas berpadu hangat dengan untaian kalimat penuh makna di Cafe Madu, Desa Sihuik kuik kecamatan Angkola Selatan,Kabupaten Tapanuli Selatan Di tempat yang bersahaja ini, Kepala Desa Sihuik-Kuik, Parubahan Pasaribu, menggelar acara silaturahim bersama sejumlah insan pers, tokoh masyarakat, dan jajaran perangkat desa pada Senin, (25/5/2026).
Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas formalitas birokrasi, melainkan sebuah momentum refleksi intelektual yang menyentuh sanubari terdalam mengenai sejarah besar kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta.
Sambil mencicipi kehangatan kopi madu, Parubahan Pasaribu membuka ruang dialog dengan memaparkan esensi historis dari ibadah kurban yang tidak boleh luntur oleh zaman. Beliau mengajak seluruh yang hadir untuk kembali mengenang sejarah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, sebuah narasi agung tentang cinta, loyalitas, dan keikhlasan tertinggi yang melintasi ruang dan waktu. Bagi Parubahan, Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan ternak secara berulang setiap tahunnya, melainkan sebuah manifestasi konkret dari peradaban manusia yang dibangun di atas fondasi ketaatan mutlak kepada Allah SWT.
Dengan nada suara yang bergetar penuh ketulusan, Parubahan menegaskan bahwa dinamika kehidupan modern seringkali mengaburkan makna kurban menjadi sebatas simbol status sosial. Padahal, setiap tetesan darah hewan kurban yang mengalir membawa pesan penting tentang pengorbanan ego pribadi demi kemaslahatan umat dan kedekatan spiritual (taqarrub) kepada Sang Khalik. “Setiap tahunnya, kita harus memastikan bahwa ada peningkatan kualitas dalam pendekatan diri kita untuk berqurban, baik secara kuantitas hewan yang dikurbankan maupun kebersihan niat di dalam hati,” tegas Parubahan Pasaribu di hadapan para wartawan dan tokoh yang hadir.
Lebih lanjut, Parubahan menguraikan dimensi sosial yang melekat erat pada momentum perayaan ini, di mana kurban menjadi jembatan kemanusiaan yang menghapuskan sekat-sekat perbedaan di tengah masyarakat Desa Sihuik-Kuik. Melalui ibadah kurban, kaum dhuafa dan mereka yang membutuhkan merasakan kebahagiaan yang sama, menciptakan harmoni, serta memperkokoh rajutan ukhuwah Islamiyah di tingkat akar rumput. Nilai-nilai gotong royong inilah yang menurutnya menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas sosial dan spiritualitas warga desa, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Pernyataan visioner dan menyentuh hati dari Kepala Desa tersebut mendapat dukungan penuh dari Tokoh masyarakat sekaligus pemangku adat, Afridoan Pasaribu, yang turut hadir dalam diskusi hangat tersebut. Senada dengan pemikiran Kepala Desa, Afridoan menyatakan bahwa kesadaran untuk berkurban secara konsisten mencerminkan kematangan mental dan ekonomi suatu komunitas. Kitab terus berkomitmen mendukung ekonomi lokal agar masyarakat memiliki akses yang lebih baik dan berkah dalam menunaikan ibadah yang mulia ini setiap tahunnya.”Pungkasnya.
Diskusi intelektual di Cafe Madu ini juga menyoroti peran strategis insan pers dalam mentransformasikan nilai-nilai kurban kepada publik secara luas dan edukatif. Parubahan Pasaribu menilai wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan agen perubahan yang mampu menyebarkan virus kebaikan dan menggugah kesadaran masyarakat untuk saling berbagi. Sinergi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan media massa dipandang sebagai formula ideal untuk membangun tatanan masyarakat yang agamis sekaligus mandiri.
Suasana silaturahim semakin syahdu saat pembicaraan beralih pada persiapan teknis ataupun tata cara yang efektip penyembelihan hewan kurban di Desa Sihuik-Kuik yang tinggal menghitung hari. Perangkat desa diperintahkan untuk bekerja secara profesional, transparan, dan penuh rasa tanggung jawab agar pendistribusian daging kurban tepat sasaran dan menyentuh mereka yang benar-benar berhak. Parubahan menginginkan prosesi kurban tahun ini menjadi potret nyata dari sebuah desa yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, kebersihan, dan ketertiban.
Menjelang akhir pertemuan, sebuah kesimpulan mendalam mengemuka bahwa esensi tertinggi dari kurban adalah menyembelih “sifat-sifat kebinatangan” yang ada di dalam diri manusia, seperti keserakahan, keakuan, dan kesombongan. Dengan pendekatan diri yang semakin intensif kepada Allah SWT di setiap tahunnya, masyarakat diharapkan mampu bertransformasi menjadi pribadi yang lebih empati dan peduli terhadap penderitaan sesama. Angkola Selatan, melalui keteladanan dari Desa Sihuik-Kuik, sedang menuliskan catatan sejarahnya sendiri tentang bagaimana sebuah regulasi spiritual mampu menggerakkan roda sosial secara nyata.
Pertemuan pun diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi seluruh warga desa yang akan segera menyambut hari kemenangan iman tersebut. Aroma kopi madu mungkin telah menguap di udara Cafe Madu, namun komitmen yang ditegaskan oleh Parubahan Pasaribu dan Afridoan Pasaribu telah tertanam kuat di hati sanubari para tokoh masyarakat dan jurnalis yang hadir. Dua hari lagi, gemuruh takbir akan berkumandang, membawa pesan abadi tentang keikhlasan yang siap diwujudkan dalam aksi nyata di bumi Sihuik-Kuik.
(A.HRP)

